Balada Si Helena
Aku masih menerka-nerka apa yang dilakukan si Helena, setelah tanah leluhurnya di gusur,
demi makmurnya perut-perut serakah
Hidupnya belumlah makmur
Si Bambang suaminya hilang entah kemana.
Mungkin kawin lagi dengan si Beti
Tatapan Helena kini gelisah,
setiap kali angin cemas menengok, mengabarkan kepedihan
"Entah kemana harus kupijakan langkah,
mengais rejeki disaat tubuhku kian lemah.
Sendiri dan tersakiti waktu"
Helena bergumam lirih,
sembari memilah, beras jatah pemerintah
Tatapan Helena makin berkabut,
menyuluh air mata
Bersamaan dengan pagi yang melegam riasnya peristiwa
Hanya pasrah ketika embun masih menenun wanginya doa
Bukanlah Kutukan sumpah serapah,
namun keadaan sudah Seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwanya
Pasrahnya Helena bukan tak ingin melawan,
namun apa daya tubuh kurusnya
Menampakan ketakberdayaan
Helena rasa berdaya mu tidak mati begitu saja.
Ayah mu Pontius Matius pergi bertapa menyepi, lakunya seperti Yusuf dari Arimatea.
Helena...
Aku ingin menyapa mu dalam hening,
tanpa titian dan tepi
"peda pera mema ana ebu kau"*
Agar makam mu kelak,
tidak harus dicari
Untuk diadili
(Aris Mite)
Juni 2020
#19noL8
Komentar
Posting Komentar