52 KiloMeter Dari Kamu
_________________________
Kira-kira demikian, syair jelata...
Melewati angin dan debu
Melewati hujan dan lumpur
Melewati serdadu dan algojo
52 kilometer dari kamu
Ketika itu aspal belum jadi makanan
Tetapi kamu, telah mengunyah remah-remah daki dan menjilat beribu-ribu liter keringat
Dari mereka yang hidup sepanjang 52 kilometer dari kamu
Darah mereka kamu jadikan kitab suci bernama undang-undang
Mengatasnamakan Kebijakan
Bangkai dan tubuh mereka kamu jadikan alas bagi pantatmu juga kursi-kursi yang terhormat
Suara mereka kamu gadaikan dengan kepentingan-kepentingan elit politik
Suara bisikanmu ditelinga jelata
Sepanjang 52 kilometer dari kamu
"Saya akan...saya akan...
bla..bla, makmur... sejahtera..bla...bla"
Rayuan maut mu , untuk melegalkan wajah suci bak malaikat pada suarat suara.
Memaksa tangan gemetar jelata menghunuskan paku Pada bilik-bilik pemilu, yang berakhir pilu
Kamu mestinya sadar, darah dan air mata jelata yang asin dalam setiap cangkir didepan meja sidang mu yang licin, kau kecap setiap waktu
Bahkan, mikrofon diatas mejamu penuh ludah basi
52 kilometer dari kamu
Bau pesing dari gubuk reot
Daki-daki dari debu jalanan
Keringat dan air mata yang tumpah ruah
Telah menumbuhkan benih subur kemiskinan
Ah...kamu terlalu banyak membual retorika
Demi simpati lima tahunan
Kami bosan menelan janjimu
Mari bertolaklah lebih kedalam
Tinggalkan riak ditepian yang dangkal
Disana ...ya, Disana ...
52 kilometer dari kamu terdapat banyak ikan
(Aris Mite)
Tepi Laut, Juli 2020
Komentar
Posting Komentar