Langsung ke konten utama

Postingan

FIRDAUS

FIRDAUS Untuk : Pak Panjikristo Px MANUSIA HIDUP BAGAI BUNGA DI DUNIA SEBENTAR IA HARUS MENUMBUHKAN KUNCUP KEMUDIAN MEKAR MEWANGI LALU LAYU DAN KEMUDIAN MATI UNTUK DAPAT TUMBUH KEMBALI SEUMPAMA BIJI SESAWI SAYUP SAYUP MERDU NYANYIAN DUKACITA TUHAN BAWALAH DAKU KE SION MENGGEMA KE SELAKSA ALAM SEMESTA APA JAWABAN TUHAN : HARI INI JUGA ENGKAU AKAN BERSAMA AKU DI DALAM FIRDAUS~ oleh : Ken Arok ( Arimite ) Poma, Nop 2017
Postingan terbaru

52 Kilo Meter Dari Kamu

52 KiloMeter Dari Kamu _________________________ Kira-kira demikian, syair jelata... Melewati angin dan debu Melewati hujan dan lumpur Melewati serdadu dan algojo 52 kilometer dari kamu Ketika itu aspal belum jadi makanan Tetapi kamu, telah mengunyah remah-remah daki dan menjilat beribu-ribu liter keringat  Dari mereka yang hidup sepanjang 52 kilometer dari kamu Darah mereka kamu jadikan kitab suci bernama undang-undang Mengatasnamakan Kebijakan  Bangkai dan tubuh mereka kamu jadikan alas bagi pantatmu juga kursi-kursi yang terhormat Suara mereka kamu gadaikan dengan kepentingan-kepentingan elit politik Suara bisikanmu ditelinga jelata Sepanjang 52 kilometer dari kamu "Saya akan...saya akan... bla..bla, makmur... sejahtera..bla...bla" Rayuan maut mu , untuk melegalkan wajah suci bak malaikat pada suarat suara. Memaksa tangan gemetar jelata menghunuskan paku Pada bilik-bilik pemilu, yang berakhir pilu Kamu mestinya sadar, darah dan air mata jelata yang asin dalam s...

DONGENG MUSIM SEMI

Dongeng Musim Semi _________________________ Ketika musim semi tiba, kepala putik dan benang sari jambu mete masih saling jatuh cinta. Padi dilumbung dibawa pergi kepasar untuk berbelanja. Coklat dan kopra dirampas tengkulak ditimbangan. Dan Ikan-ikan segar diperkampungan nelayan mengeluarkan bau amis. Ketika musim semi tiba, Para filsuf dan suhu dunia maya keluar dari pertapaan membicarakan filsafat perbandingan dan prakiraan  Para Majus meneropong rasi bintang dilangit  Ketika musim semi tiba,  Genderang Pemilukada ditabuh Panji-panji bergantungan  Roda-roda meninggalkan jejak diatas batu-batu  Musafir bermusim-musim mencari mata air kepastian Ketika musim semi tiba, Dingin mengendap-endap membawa janji Kata-kata bersembunyi didalam selimut Yang terkasih bernyanyi dekat perapian Tentang hikayat penagih janji (Aris Mite) Loka Tua, Juli 2020

REMBULAN DIATAS MENARA

Rembulan Diatas Menara Pada Surau beratap punden berundak-undak Rembulan sembunyikan matanya malu-malu rasanya Tetapi biasnya menimbulkan bayang Bocah-bocah bermain sepeda dijalanan berdebu dan berlubang Lelaki tua bersorban dikedai rumbia mengepulkan sebongkah asap tembakau Tatapan matanya memandang kearah menara surau  Tempat rembulan menyembunyikan matanya Ada rindu yang tersesat disana Angin menghempaskan debu-debu  Bocah-bocah bersepeda menghilang  Suyup-sayup angin meniup lilin kedai Seoarang ibu meninabobokan anakanya dengan lantunan ayat suci  Rembulan diatas menara Mengapa kau sembunyikan mata mu? Kau lihat kedai sunyi penuh abu dan debu Hapuslah... (Aris Mite) Pantura, 09 Juli 2020

BALADA SI HELENA

Balada Si Helena Aku masih menerka-nerka apa yang dilakukan si Helena, setelah tanah leluhurnya di gusur, demi makmurnya perut-perut serakah Hidupnya belumlah makmur Si Bambang suaminya hilang entah kemana. Mungkin kawin lagi dengan si Beti  Tatapan Helena kini gelisah, setiap kali angin cemas menengok, mengabarkan kepedihan "Entah kemana harus kupijakan langkah, mengais rejeki disaat tubuhku kian lemah. Sendiri dan tersakiti waktu" Helena bergumam lirih,  sembari memilah, beras jatah pemerintah Tatapan Helena makin berkabut, menyuluh air mata Bersamaan dengan pagi yang melegam riasnya peristiwa Hanya pasrah ketika embun masih menenun wanginya doa Bukanlah Kutukan sumpah serapah, namun keadaan sudah Seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwanya Pasrahnya Helena bukan tak ingin melawan, namun apa daya tubuh kurusnya Menampakan ketakberdayaan  Helena rasa berdaya mu tidak mati begitu saja.  Ayah mu Pontius Matius pergi bertapa menyepi,  lakunya sep...

KETIKA

KETIKA Ketika ku tanya mengapa? kamu jawab karena... Ketika ku tanya kapan? kamu jawab karena... ketika ku tanya dari mana? kamu jawab karena... ketika kutanya bilamana? dan kamu jawab karena... ketika ku diam kamu berguman karena... maka tibalah kita pada sebuah persimpangan dalam diam... dan hening memecah canda mungkin kita sedang lelah dan malu-malu pada waktu...       ketika...       karena... dari sudut manakah kita akan segera mulai melukiskan kebisuan... dengan lentik jemari-jemari segera hilangkan keraguan ketika... karena... Oleh : Aris Mite  Nov 2013

PEREMPUAN PEMECAH KEMIRI

PEREMPUAN PEMECAH KEMIRI Mentari pagi di ufuk timur Merekah, datang dari balik bukit Seminggu sebum nantal tiba Perempuan-perempuan Desa Pulang dari ladang kemiri Dengan bakul-bakul di kepala Tak peduli pada embun Yang membasahi sekujur tubuh Ya...mereka mengejar matahari Mereka mengerti Natal telah tiba Tetapi kemiri musti terjual Apalagi baju natal Untuk belum terbeli Perempuan pemecah kemiri Pergi sebelum terbit mentari Pulang sebelum embun hilang Demi natal yang bahagia... Oleh : Ken Arok (Aris mite) Poma, 16 Des 2017